Sukabumi, Pengurus Senat Mahasiswa (SEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Masthuriyah Kabupaten Sukabumi mengadakan kegiatan Dialog Keperempuanan pada hari rabu, 09 Maret 2022. Kegiatan yang mengangkat tema “Mengungkap Sejarah Peran Ulama Perempuan Di Indonesia” tersebut diselenggarakan secara daring dengan peserta seluruh Mahasiswa STAI Al-Masthuriyah. Kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati hari perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 08 Maret dan hari Wanita Indonesia yang jatuh pada tanggal 09 Maret Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Ketua Pelaksana kegiatan Dialog Keperempuanan, Dewi Kartini. Dewi menyampaikan laporan kegiatannya dari mulai rencana, tema, panitia, peserta dan tahapan pelaksanaannya. Ketua pelaksana pun menyampaikan tujuan dan harapan terkait kegiatan ini. ”…Adapun tujuan kegiatan ini yaitu untuk memperingati Hari Perempuan Internasional juga Hari Wanita Indonesia khususnya mengungkap sejarah peran ulama perempuan di Indonesia dengan harapan memberikan wawasan serta membuka pikiran yang luas akan peran seorang wanita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.” Jelasnya. Ketua umum Senat Mahasiwa STAI Al-Masthuriyah, Devia Aulia Syihrilkar, kemudian membuka kegiatan dialog keperempuanan tersebut. Dalam sambuatannya, Devia, sapaan akrabnya,  memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat atas terlaksananya kegiatan tersebut “sekali lagi saya ucapkan terimakasih dan apresiasi terkait kegiatan ini, semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita” tegasnya. Salah satu dosen di STAI Al-Masthuriyah  Silvia Rahmah menjadi narasumber pada kegiatan Dialog Keperempuanan ini. Dalam paparannya beliau menjelaskan sejarah peran ulama perempuan di Indonesia. Silvia menekankan peran serta jasa para perempuan terdahulu sangatlah berpengaruh terhadap peradaban, dimana tak sedikit dari ulama perempuan tampil di Panggung sejarah melalui gebrakan pemikiranmya, tapi tak banyak orang yang mengetahui fakta akan hal itu, dan bahkan hampir tak tercatat dalam sejarah. Diantara ulama perempuan yang berjasa dalam perjuangan sejarah Indonesia tersebut yaitu Nyai Khoiriyah Hasyim yang tak lain adalah putri Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang menjadi pelopor pendidikan pesantren putri, Rahmah El Yunusiyah sang reformatur pendidikan Islam dan Pejuang kemerdekaan Indonesia, Fatimah Al Falimbani ulama perempuan yang menjadi Ahli hadist, Teungku Fakinah Sang panglima perang dan ulama terkemuka asal Aceh, serta tak lupa yaitu Nyai Djuaesih merupakan perempuan pertama yang berpidato pada Muktamar NU ke-13 di Menes Provinsi Banten tahun 1938 yang tak lain merupakan putri asal kota Sukabumi. Silvia yang juga merupakan Ketua Forum Da’iyah Fatayat Kota Tasikmalaya menjelaskan bahwa adanya peringatan perempuan di Indonesia ini bukan untuk melebihi atau melangkahi fitrahnya kaum laki-laki, tapi untuk mengapresiasi peran dan keikutsertaannya perempuan dalam perubahan peradaban, khususnya di wilayah masing-masing dan umumnya di Negara Indonesia. Karena, ujar beliau, setiap kesulitan yang dihadapi perempuan akan menghasilkan sebuah kekuatan. “perempuan mampu mengubah  kesulitan  menjadi suatu kekuatan, yang mana kekuatan itu akan bisa menghadirkan do’a, harapan dan cinta dalam kegiatan sehari-harinya.”pungkasnya pada pemaparan materi di kegiatan dialog keperempuanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.